google-site-verification=p8j927F93wmi6D72LwJwCCcx1F8_7cedpA5d2vhRbto Waserbada
Kebahagiaan hidup yang disandarkan pada banyaknya harta, tingginya pangkat, jabatan dan kedudukan, banyaknya anak, dan wanita yang diidamkan tidak akan bertahan lama. Kebahagian hakiki letaknya ada di dalam hati, dan ini bisa diperoleh jika Allah ridha kepada kita. Allah akan ridha kepada kita jika kita menjalankan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi yang dilarang-Nya

Selasa, 07 Juni 2011

KARAKTER RUMAH TANGGA MUSLIM

1.        Baitul muslim ( keluarga muslim ) adalah komunitas teladan dan sebuah masyarakat islami. Ia dibangun di atas aqidah yang bersih (tauhid), ibadah yang shohih, akhlak yang lurus dan fikroh islamiyah yang kokoh.

2.        Memelihara aspek tauhid.
Penanaman tauhid kepada keluarga dimulai sejak dini yaitu ketika manusia terlahir dari rahim sang ibinda untuk diadzankan . Diriwayatkan oleh  Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Raif berkata aku melihat Rasululloh saw mengumandangkan adzan  pada  telinga Hasan bin Ali ketika Fatimah  ra melahirkannya.

3.        Menjaga dan memelihara status dan hak masing-masing
Ayah sebagai pemimpin dan bertanggung jawab seisi rumah atas keselamatan mereka, ia punya hak untuk dihormati dan ditaati.  Selagi perintanya tiddak bertentangan dengan syariat Islam.  Ibu mengayomi anak-anak, menumbuhkan kesejukan dan membahagiaan, dan ia punya hak untuk dimulyakan, dan anak-anak mereka butuh kedamaian, bimbingan, dan perawatan.  Merekapun punya hak atas statusnya untu disayangi.

4.        Menyemai nilai akhlaq.
Penyangga rumah tanggal islam setelah tauhid  dan ibadah adalah akhlaq. Ia adalah perangkat kedamaian dan sakinah sebuah keluarga.  Rasulullah SAW bersabda : ” faktor yang  paling  banyak menyebabkan seorang masuk surga adalah  setelah taqwa adalah akhlaq yang baik” (HR Turmudzi ).  Menjalankan sholat setelah mereka berumur 7 tahun, dan jika sudah berusia 10 tahun pukulah dia jika tidak mau melaksanakannya dan pisahlah tempat tidur mereka. (HR Kakim )

5.         Penuh perhatian
Suami : berkata santun, memenuhi kebutuhan isteri, mencintainya, selalu mengayomi agar isteri selalu pada ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW.
Isteri : menyenangkan suami, mentaati perintahya, dan menjaga kesucian dirinya. Berpesan kepada suami di pagi hari dan menanyakan keadaannya di sore hari. Keduanya sangat perhatian pada keselamatan anak-anaknya, mentarbiyahnya dengan tarbiyah islamiyah, memberikan makan dengan rizki yang halal.

6.         Merasa Mulia dengan Dakwah
Karakter spesifik dari keluarga islam adalah keterkaitannya dengan dakwah, dan merasa mulia dengannya.  Umar berkata ; “Barang siapa mencari kemuliyaan dengan selain apa yang telah Allah muliyakan maka kita akan hina.”

7.         Memelihara Ajaran Islam dalam Setiap Urusan Rumah Tangga.
Sebuah rumah tangga Islami akan menjalankan perannya dalam mengaplikasikan nilai-nilai agung ajaran Islam, menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.  Imam Malik berkata “ sunnah Rasulullah SAW itu iberat parahu nabi Nuh AS ( saat terjadi taufan ) maka barang siapa naik maka selamatlah ia dan barang siapa tidak mau menaikinya maka tenggelamlah ia.

8.         Menjaga Kebersihan dan Keindahan Rumah “
Sungguh keindahan Islam itu sebahagiannya diperankan  oleh keluarga muslim, karena ia senang hidup bersih, dalam perilaku, pakaian, makanan usaha dan sebagaimya. Ia sadar bersih adalah pangkal kesehatan :
“ Sesungguhnya Allah itu Maha Indah menyukai keindahan. Allah itu Maha Baik menyukai kebaikan,”

9.         Membentengi rumah dari pencemaran akhlaq
Kesadaran Islam ( Al wahyu al Islam ) terus dihidupkan melalui interaksi yang inten terhadadp nilai-nilai Islam, sehingga nuansa keislaman di rumah mampu terbentengi dari pencemaran akhlaq.  Amar ma’ruf nahi munkar ditegakkan sebagai realisasi sabda Rasulullah SAW : “ Baarang siapa di antara kamu melihat kemunkaran maka ia hendaklah merubah dengan tangannya, apabila tidak mampu maka dengan lesannya, apabila tidak mampu maka  dengan hatinya dan yang demikian itu maka adalah selemah-lemah iman. ( HR Muslim )

10.     Tidak berlebihan
Keluarga muslim memberi makan yang terbaik pada keluarganaya, tetapi tidak berlebihan. Ketika berpakaian tidak melampau batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan ketika makan tidak pula melampaui batas-batas yang dihalalkan.
 Allah berfirman dalam Qur’an suarat Al Furqaan :67
dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

QS Al A’raaf : 31

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid[534], Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
[534] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain.
[535] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.

TAHTA RAYATIL QUR”AN


1.       Sebagai seoran muslim yang memiliki kewajiban dakwah, sikap kita terhadap Al Quran haruslah jelas, Kejelasan sikap kita menjadi sangat penting karena menggunakan salah satu ukuran pokok dari keimanan kita kepada Allah SWT. Sikap itu antara lain meyakini dan memahami bahwa Al Quran merupakan kitab yang menjelaskan hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan halal dan haram. Petunjuk menuju kebaikan dan kebahagiaan, serta jalan yang lurus.

2.       Terkait dengan Al Quran, salah satu yang harus kita evaluasi adalah  apakah kita mau mentaati utsan Allah, menghormati aturan-aturanNya, bersedia melaksanakan  hukum-hukumNya, menjujung tinggi Al Quran dengan selalu menghalalkan apa yang dihalalkan dan  mengharamkan apa yang diharamkanNya.

3.       Dihadapan kita terdapat tatanan yang jauh sekali dari al qur’an. Tugas kita adalah terus berjuang hingga seluruh penduduk bumi mendengungkan al quran dan seluruh penduduk dunia mengamalkan ajaran Al Quran agar kita  kembali hidup di bawah panji-panji al Quran.

4.       Al Quran yang diamalkan dalam sikap dan perilaku adalah senjata yang ampuh untuk meraih keberhasilan hidup.Allah berfirman :
Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan[408].
Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
[408] Cahaya Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. dan kitab Maksudnya: Al Quran.

5.        Keuntungan yang akan diperoleh orang yang hidup di bawah panji Al Quran, tertimbing, mampu mengatasi persoalan, dihindarkan dari noda dan dosa, dan akan terwujud kehidupan yang khasanah di dunia dan akherat.

Disalin dari Tsaqawah Islamiyah

Selasa, 31 Mei 2011

CARA MENCINTAI RASULULLAH




Cinta adalah sebuah ungkapan yang sangat indah dalam kehidupan manusia, dengan cinta manusia bisa sengsara dan dengan cinta pula manusia bisa bahagia, bahkan surga bisa diraih dengan cinta, yaitu cinta yang hakiki kepada manusia terpilih Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam (SAW).

Seseorang yang sedang jatuh cinta, biasanya akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari jalan bagaimana caranya agar yang dia cintai itu membalas cintanya. Ia pasti akan berusaha mneghadirkan apa yang disukai oleh yang dia cintai. Setelah dia tahu tentu saja dia akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya sampai yang dia cintai itu membalas cintanya. Bukan itu saja, dia juga akan selalu berusaha agar cinta yang telah dia peroleh dengan susah payah itu tetap langgeng dan terus meningkat. Jika dia cinta betul kepada seseorang, saya yakin dia selalu berusaha mementingkan seseorang itu tanpa memperhatikan kepentingan dirinya sendiri.

Mencintai Nabi SAW adalah kewajiban. Sebaliknya, tidak mencintai beliau apalagi sampai membenci beliau adalah sebuah kemaksiatan. Apalagi Allah SWT telah menyandingkan kecintaan kepada Nabi SAW dengan kecintaan kepada-Nya. Allah bahkan telah mencela orang yang mencintai sesuatu melebihi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya:
"Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri (atau suami-suami) dan kaum keluarga kelian, juga harta yang kalian usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab)-Nya. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang fasik (derhaka).” (QS at-Taubah : 24)."

Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari).


Fadilah (keutamaan) mencintai Rasulullah SAW

Banyak sekali keutamaan yang didapatkan kalau seseorang mencintai Rasulullah SAW, di antaranya:
1.  Cinta kepada Nabi SAW adalah bagian dari kesempurnaan iman dan cara untuk mendapatkan kecintaan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits : “Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” 
       (HR. Al-Bukhari)

2.       Akan bersama Rasulullah SAW di Akhirat, sebagaimana hadits yang diwayatkan oleh Anas bin Malik RA, “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?” Nabi pun SAW menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya SAW” Maka Rasulullah SAW pun bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi SAW, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’” Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari)

3.   Akan merasakan manisnya iman, sebagaimana Hadits dari Anas bin Malik ra., dari Nabi saw., beliau bersabda: "Ada tiga hal, barang siapa melaksanakan ketiga-tiganya maka ia akan merasakan kelezatan iman: Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada yang lain, orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah dan orang yang benci untuk kembali kekafiran sebagaimana benci untuk masuk ke dalam neraka."(HR. Bukhari).

Arti manisnya iman sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ulama adalah merasakan lezatnya segala ketaatan dan siap menunaikan beban agama serta mengutamakan itu daripada seluruh materi dunia.

Cara mencintai Rasulullah SAW
Banyak orang yang mengaku cinta Rasulullah SAW tetapi mereka tidak tahu hakekatnya, bentuk serta konsekuensi dari cinta tersebut. Cinta Rasulullah adalah bagian dari cinta Allah, karena ia adalah cinta karena Allah dan di jalan Allah, hal itu karena kecintaan kepada Allah menuntut konsekwensi mencintai semua yang Allah cintai, sedangkan Allah mencintai nabi dan kekasihNya Muhammad SAW, sehingga kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah cabang  dari kecintaan  terhadap Allah. Semua itu telah dicontohkan oleh generasi terbaik sehingga sepatutnyalah manusia yang ingin mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirat mencontoh mereka.

Diantara cara mencintai Rasulullah SAW sesuai Syari'at Islam serta yang telah dicontohkan oleh para salaf ash-sholih adalah:

1.   Mentauhidkan Allah
Hikmah utama diutusnya rasul termasuk Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyeru manusia kembali kepada tauhid yang murni dan menentang syirik. Sebagaimana Firman Allah SWT: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus di kalangan tiap-tiap umat seorang rasul (agar menyeru mereka). Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhi Taghut.” (QS al-Nahl : 36)

2. Mengikuti ajaran Rasulullah SAW dan menjauhi larangannya, karena orang yang mencintai seseorang, maka akan mentaatinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang akan selalu taat kepada orang yang dicintainya, dia berusaha melakukan apa saja yang diinginkan oleh sekasihnya dan menghindari segala apa saja yang dibenci olehnya. Ia merasakan kenikmatan dan kelezatan yang tidak terhingga. Begitu juga orang yang mencintai Rasulullah SAW yang mulia, selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti jejak beliau, bersegera mewujudkan perintah dan bersegera menjahui larangan beliau. Betapa banyak kita dapatkan sikap-sikap indah yang tercermin dari perilaku sahabat yang mulia dan jujur dalam mencintai Rasulullah SAW. Orang-orang pecinta Rasulullah SAW bukan hanya sanggup meninggalkan suatu yang disenangi saja bahkan mereka sanggup meninggalkan kebiasaannya bertahun-tahun bahkan kebiasan yang mereka warisi secara turun-temurun, namun mereka tidak menjadikan kebiasan itu sebagai hujjah untuk menentang perintah Rasulullah SAW seperti sikap kebanyakan kaum muslimin zaman sekarang ini. Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan".
(QS. Al Anfaal (8): 24).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman: 
"Apa yang Rasul perintahkan jepada kalian, terimalah; apa yang Beliau larang atas kalian, tinggalkanlah". (QS al-Hasyr : 7).

3.  Mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi SAW, sebagaimana firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." [QS Al-Ahzaab: 56].

Di dalam hadits yang diriwayatkan olehi Abu Hurairah, ia berkata: "Rasulullah SAW. pernah bersabda: 'Celakalah orang yang mendengar namaku disebut ia tidak mau bershalawat kepadaku, celakalah orang yang pada saat bulan Ramadhan datang, lalu berlalu begitu saja sebelum memperoleh ampunan, dan celakalah orang yang mendapatkan kedua orang tuanya telah tua, tetapi tidak menjadikan ia masuk surga." (HR. Tirmidz)

Bershalawat kepadanya tidaklah lepas dari berbagai faedah dan manfaat karena bershalawat kepada Nabi merupakan faktor diperolehnya berbagai kebajikan, dikabulkannya berbagai do’a, mendapatkan syafa’at, shalawat Allah atas hambanya, keabadian cinta Nabi dan tambahannya, dan selamat dari kebakhilan.

4.   Membenci orang yang Allah dan Rasul-Nya benci, memusuhi orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, menjauhi orang yang menyalahi sunnahnya dan Syariah Islam, serta membenci semua perkara yang menyalahi Syariat. Allah swt berfirman:
"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang (perintah) Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu ialah bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka (yang setia) itu, Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka..." (QS Al-Mujaadilah : 22).

5.   Mencintai orang-orang yang dicintai Nabi SAW
Antara tanda cinta kepada Nabi SAW adalah mencintai mereka yang dicintai baginda seperti isteri-isterinya, ahli keluarga (ahlu al-bait) dan sahabatnya serta seluruh umat Islam yang berpegang teguh dengan ajaran baginda.

6.   Membenarkan berita-berita yang beliau sampaikan
Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi SAW dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Allah Ta’ala berfirman
Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”     (QS. An-Najm: 3-4)

7.   Beribadah kepada Allah dengan tata-cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, tanpa ditambah-tambah ataupun dikurangi. Allah SWT berfirman,
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak.” (HR. Muslim)

8. Mencintai beliau SAW di atas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan seluruh manusia, dalam rangka mengamalkan firman Allah:
   
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri” (QS. Al Ahdzab: 6)

Sehingga bersiap mengorbankan jiwa dan harta untuk kecintaan kepadanya, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya:
Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At Taubah: 120)
9.   Membela Rasulullah SAW tatkala Beliau masih hidup, dan membela ajarannya setelah beliau wafat. Dengan cara menghafal, memahami dan mengamalkan hadits-hadits Nabi SAW. Juga menghidupkan sunnahnya dan menyebarkannya di masyarakat.

Dari 'Umar bin 'Abdul 'Aziz beliau pernah menulis surat kepada Abu Bakr bin Hazm: "Perhatikanlah mana yang merupakan Hadits Rasulullah hendaklah kamu tulis karena aku khawatir musnahnya ilmu agama ini dan lenyapnya para ulama. Janganlah engkau terima riwayat selain Hadits Nabi saw. dan hendaklah kalian sebarkan ilmu Hadits ini dan hendaklah kalian duduk untuk mempelajarinya sampai orang yang tidak tahu diajari sebab ilmu ini tidak akan musnah sampai menjadi barang yang asing." (HR. Bukhari)

Demikianlah sebahagian tanda dan bukti penting kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, semoga Allah memudahkan kita untuk memiliki dan merealisasikannya dalam kehidupan kita.

Ya Allah Ya Rabbi, kurniakanlah kami kalbu pecinta, cinta akan Rasul-Mu terkasih dengan sebenar-benarnya cinta sejati, yang bukan hanya pengakuan namun berupa pembuktian, yang menjadikan pertemuan dengannya sebagai sebuah kerinduan…

Referensi:
1.  Huquq An-Nabi ‘Ala Umatihi Fi Dha’il Kitab Was Sunnah. Dr. Muhammad Khalifah Al-Tamimi
2.  Mahabbatu An-Nabi Wa Ta’zimuhu. Fahd bin Abdullah Al-Habisyi.

Sumber : Abdurrahman Wahid, Lc
               http://www.pks-arabsaudi.org/