google-site-verification=p8j927F93wmi6D72LwJwCCcx1F8_7cedpA5d2vhRbto Waserbada: Muraqabah dan Muhasabah
Kebahagiaan hidup yang disandarkan pada banyaknya harta, tingginya pangkat, jabatan dan kedudukan, banyaknya anak, dan wanita yang diidamkan tidak akan bertahan lama. Kebahagian hakiki letaknya ada di dalam hati, dan ini bisa diperoleh jika Allah ridha kepada kita. Allah akan ridha kepada kita jika kita menjalankan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi yang dilarang-Nya

Jumat, 01 April 2011

Muraqabah dan Muhasabah


Muraqabatullah atau keyakinan adanya pengawasan Allah akan melahirkan maiyatullah ( kesertaan Allah) seperti nampak pada  kayakinan Rasulullah SAW (lihat At Taubah : 40). 
”Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [643].

[643] Maksudnya: orang-orang kafir telah sepakat hendak membunuh Nabi SAW, Maka Allah s.w.t. memberitahukan maksud jahat orang-orang kafir itu kepada Nabi SAW. karena itu Maka beliau keluar dengan ditemani oleh Abu Bakar dari Mekah dalam perjalanannya ke Madinah beliau bersembunyi di suatu gua di bukit Tsur.

Beliau mengatakan kepada Abu Bakar Sesungguhnya Allah bersama kita, ketika Abu Bakar sangat cemas musuh akan mengetahui keberadaan Nabi dan menagkapnya. Begitu pula nabi Musa as ketika dibelakangnya tentara Firaun mengepung dan laut Merah ada di depan mata, saat pengikunya mulai panik nabi Musa berkata “ sekali kali tidak (akan tersusul) Rabku bersama Rabku. Dia akan menunjukiku jalan 
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS Al An”am : 59)


Muraqabah dan Musahabah yaitu orang yang menjauhi perbuatan dosa-dosa besar dan keji yang selain dari kesalahan – kesalahan kecil.
"(yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.(QS An Najm : 32 )


Ayat Allah SWT tersebut menyadarkan kita akan kelemahan manusia yang sering khilaf. Allah menegaskan bahwa kita jangan merasa dan mengklaim diri suci, karena Allah SWT yang paling mengetahui siapa yang bertaqwa dan siapa yang tidak

Bila setiap muslim senantiasa menghadirkan muraqabatullah (pengawasan Allah) dalam dirinya maka ia akan selalu takut untuk berbuat maksiat, karena ia akan selalu merasa dan sadar dirinya dalam pantauan dan pengawasan Allah SWT

Seorang muslim yang gemar menghadirkan muraqabatullah (pengawasan Allah) dalam dirinya, ia akan gemar pula memusahabahi (menghitung/mengevaluasi) diri karena takut akan perhitungan hari akherat. Orientasi ukhrawi membuatnya senantiasa memperhitungkan segala tindak tanduknya dalam perspektif ukhrawi. Ia juga akan terhindar dari penyakit Wahn ( cinta dunia takut mati ), keserakahan, kezaliman, penindasan dan kemungkaran karena semua keburukan itu hanya akan menyengsarakannya kelak di akherat. Diantara diktator kehidupan dakwah adalah munculnya halaqah dank kader-kader baru

Seorang muslim yang gemar menghadirkan muraqabatullah (pengawasan Allah) dalam dirinya akan berusaha menanam kebajikan sebanyak mungkin agar dapat menuai hasilnya di akherat kelak. Ibnul Qoyyim Al Jautsiah pernah mengibaratkan bahwa dunia adalah ladang tempat menanam, bibitnya adalah keimanan dan ketaatan adalah air dan pupuknya. Sementara akherat adalah tempat kita memetik atau menuai hasilnya kelak

Seorang muslim yang gemar menghadirkan muraqabatullah (pengawasan Allah) dalam dirinya maka ia akan aktif mengontrol dirinya sendiri karena ia sadar senantiasa berada di bawah pengawasan Allah seperti dalam untaian ayat Allah berikut :

” Dan Dia berada bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan" (QS Al Hadid (57) : 4 )


”Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yyang dibisikan hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya” (QS Qaaf (50) : 16)

Orang yang rajin menghadirkan muraqabah dan muhasabah dalam dirinya akan mau dan mudah melakukan perbaikan diri. Ia juga akan mau meneliti, mengintrospeksi, mengoreksi, dan menganalisis dirinya. Hal-hal apa saja yang menjadi kekuatan dirinya yang harus disyukuri dan dioptimalkan dan apa saja yang menjadi faktor kelemahan yang harus diatasi. Apa saja bahaya bahaya yang mengancam diri dan aqidahnya sehingga harus diantisipasi dan akhirnya peluang peluang kebajikan apa saja yang harus dimanfaatkan sebaik baiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar