google-site-verification=p8j927F93wmi6D72LwJwCCcx1F8_7cedpA5d2vhRbto Waserbada: AKTIVASI OTAK TENGAH, PERLUKAH?
Kebahagiaan hidup yang disandarkan pada banyaknya harta, tingginya pangkat, jabatan dan kedudukan, banyaknya anak, dan wanita yang diidamkan tidak akan bertahan lama. Kebahagian hakiki letaknya ada di dalam hati, dan ini bisa diperoleh jika Allah ridha kepada kita. Allah akan ridha kepada kita jika kita menjalankan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi yang dilarang-Nya

Senin, 21 Maret 2011

AKTIVASI OTAK TENGAH, PERLUKAH?

Sedang marak dibicarakan beberapa saat yang lalu hingga kini. Tidak wajar dan sangat di luar akal sehat. Hanya dua-tiga jam diaktivasi otaknya, bisa menjadi cerdas, memiliki kekuatan supranatural. Dapat membaca dengan mata tertutup, mewarnai dengan mata ditutup, bersepeda dengan mata ditutup. Kalau ini sebagai pertunjukkan sirkus atau sulap bisa dipahami. Tapi kalau tujuannya untuk tujuan menjalani hidup, apa gunanya. Hidup tidak bisa dijalani dengan seperti itu, tidak manusiawi.
Nabi agung yang sangat mulia, seorang rasul yang menjadi rahmatal lil'alamin tidak pernah mengajarkan yang demikian. Beliau juga manusiawi, dilempar batu bibirnya juga berdarah. Beliau juga mengajarkan untuk mencapai sesuatu perlu usaha, kerja keras, dan tidak isntan.

Ada baiknya kita simak beberapa pendapat di bawah ini :
Dokter spesialis saraf, dr. Arman Yurisaldi MS.,SpS mengatakan, perangsangan otak yang salah bisa berakibat fatal.
"Setiap ahli saraf sadar, setiap sel otak yang mati dan sulit untuk tumbuh. Sehingga tidak boleh sembarangan dalam memberi terapi dan memberi saran-saran pengembangan otak," kata Arman kepada
Arman mengatakan, pelatihan aktivasi otak tengan (AOT) adalah teori yang belum bisa dibuktikan dengan metode ilmiah yang benar. Dia mengatakan, dari buku-buku soal AOT yang beredar tidak ada satupun yang ditulis oleh ahli saraf.

Akibatnya, kata Arman, banyak keterangan-keterangan tentang otak yang salam dalam buku-buku tersebut. Dalam teori AOT dikatakan, otak tengah berfungsi menghubungkan otak kiri dengan kanan. Padahal kata Arman, otak tengah berfunsi menghubungkan otak besar dengan otak kecil.
"Dari teori anatomi saja sudah salah," katanya.

Teori AOT mengklaim, dengan anak yang diaktivasi otak tengahnya akan menjadi cerdas yang kreatif. Karena mereka bisa mengoptimalkan otak kanan dan kiri mereka secara bersamaan. Ciri anak yang teraktivasi otak tengahnya, mereka bisa membaca dengan mata tertutup.

Arman mengatakan, tidak ada satupun bagian otak manusia normal yang tidak aktif, termasuk otak tengah.
"Gangguan sedikit saja pada daerah ini (otak tengah) bisa mengakibatkan terganggunya kesadaran," jelas Arman.

Arman menyimpulkan, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ilmiah, dia tidak merekomendasikan para orang tua menyertakan anaknya dalam program AOT sampai teori itu bisa dibuktikan secara ilmiah. Selain Arman, sekelompok dokter dan psikolog Indonesia juga telah membuat petisi Tolak Aktivasi Otak Tengah, http://www.ipetitions.com/petition/stop-aktivasi-otak-tengah/.

Sekedar tambahan informasi, 20 Januari 2011 lalu, Pusat Inteligensi Kementerian Kesehatan RI telah menyarankan kepada salah satu penyelenggara AOT untuk mengganti istilah aktivasi otak tengah menjadi stimulasi otak. Karena intinya, yang distimulasi adalah otak keseluruhan. www.hidayatullah.com,

Prof. Dr Sarlito Wirawan Sarwono :

“Setelah mengikuti kuliah Neurologi dr 3 dokter Spesialis Syaraf dan mendengarkan penjelasan umum tentang GMC dari ibu Putri, perkenankan saya mengajukan beberapa hal.
Bukan sebagai tokoh antagonis, tetapi sebagai masukan buat program GMC yg bagaimanapun juga sudah terlanjur populer di masyarakat. Harapan saya kita semua bisa meningkatkan kualitas pelayanan GMC agar lebih berdaya guna buat masyarakat, ketimbang adu kontroversi yg malah membingungkan masyarakat.

  1. Dalam beberapa hal GMC (atau GMI? Maaf sy lupa) sudah benar. Misalnya: menganjurkan ortu untuk mengubah cara mendidik anak, lebih banyak memuji walaupun anak salah, tidak memaksa belajar kalau situasi ga kondusif dll; metode training umum untuk meningkatkan general condition of mind, misal: relaksasi, motivasi musik dll (dipraktikkan jg di Asia Week, ESQ dn pelatihan2 lain).
  2. Beberapa point masih kontroversial, misal: brain gym dan melihat dg mata tertutup. Ini masih dianggap psedo science dan ga jelas hubungannya dengan peningkatan inteligensi, sehingga perlu dipertimbangkan ulang.
  3. Yang mutlak keliru adalah konsep Aktivasi Otak Tengah. Saya kira ke-3 dokter + dr Kemas sendiri, sama pendapatnya, yaitu yg distimulasi adalah keseluruhan otak, bukan hanya Otak Tengah. Saya kira pernyataan dr Taufik sangat baik, yaitu bahwa teknologi yg terbaik adalah pendidikan. Dan untuk mengintervensi minimal 10 hari (brp Rp tuh?), bahkan bisa bertahun-tahun, bukan hanya 2 hari.
  4. Dalam strategi marketing ke depan perlu diperbaiki, misal dengan mengubah/hilangkan kata AOT, sehingga  tidak ada kesan “instant” dan pembohongan”. 
  5. Saya mengapresiasi niat baik GMC utk mendengar masukan dari berbagai pihak dan tidak hanya bersikap membela diri seperti yang banyak terjadi di Indonesia.   

Wassalam, Sarlito”
http://midbrainactivation.net

Indria Laksmi Gamayanti (psikolog anak Rumah Sakit Umum Pusat dr Sardjito Yogyakarta)

Aktivasi otak tengah pada anak-anak perlu diteliti terkait adanya anggapan dengan mengaktifkan otak ini dapat membuat seorang anak menjadi jenius,.
Menurut Indria, tumbuh kembang dan perilaku anak tidak dapat diubah secara instan, apalagi dapat membuat anak menjadi jenius. Ia mengatakan, aktivasi otak tengah tidak dapat secara instan membuat anak menjadi jenius atau berpontesi dibandingkan anak yang otak tengahnya belum diaktifkan.

“Perlu dikaji terlebih dahulu konsep seorang anak dikatakan jenius itu seperti apa, dan terminologi pengaktifan otak tengah harus dipaparkan dengan jelas,” katanya di Yogyakarta,
Ia mengatakan perkembangan anak adalah sebuah proses, jadi tidak bisa secara instan diubah dalam waktu singkat dan cepat.
“Hingga saat ini, belum ada penelitian tentang hal tersebut apakah dengan diaktifkannya otak tengah pada seorang anak dapat menjamin yang bersangkutan dapat menjadi jenius serta berpotensi,” katanya.
Menurut dia, dengan dilakukanya penelitian yang lebih mendalam dan melibatkan para pakar, tentunya dapat memgetahui sebenarnya aktivasi otak tengah itu apakah menjamin terhadap tumbuh kembang dan pola pikir anak atau tidak.
Ia mengatakan cara-cara yang dilakukan saat ini dalam proses pengaktifan otak tengah harus dibuktikan terlebih dahulu.
“Pada umumnya hal-hal yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pengaktifan otak tengah, yaitu memberikan sugesti dan motivasi kepada seorang anak untuk mengerjakan sesuatu, menciptakan keadaan relaksasi yaitu anak dibawa dalam keadaan yang tenang tanpa beban serta tanpa takut dalam melakukan sesuatu, katanya.
Laksmi mengatakan hal tersebut baik dilakukan untuk anak, sehingga dapat membantu proses pertumbuhan pola pikir anak, tetapi akan lebih baik jika dilakukan penelitian terlebih dahulu terhadap hal itu.
Menurut dia, aktivasi otak tengah yang sekarang banyak dilakukan lembaga pengembangan anak, hanya sebagai tren bisnis semata. “Dunia pendidikan anak, sebenarnya tidak bisa dicampuradukkan dengan dunia bisnis,” katanya.

http://health.kompas.com/index.php/read/2010/08/28/09564284/Aktivasi.Otak.Tengah.Anak.Perlu.Diteliti-5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar