Kebahagiaan hidup yang disandarkan pada banyaknya harta, tingginya pangkat, jabatan dan kedudukan, banyaknya anak, dan wanita yang diidamkan tidak akan bertahan lama. Kebahagian hakiki letaknya ada di dalam hati, dan ini bisa diperoleh jika Allah ridha kepada kita. Allah akan ridha kepada kita jika kita menjalankan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi yang dilarang-Nya

Senin, 30 Mei 2011

CARA MENCINTAI RASULULLAH




Cinta adalah sebuah ungkapan yang sangat indah dalam kehidupan manusia, dengan cinta manusia bisa sengsara dan dengan cinta pula manusia bisa bahagia, bahkan surga bisa diraih dengan cinta, yaitu cinta yang hakiki kepada manusia terpilih Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam (SAW).

Seseorang yang sedang jatuh cinta, biasanya akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari jalan bagaimana caranya agar yang dia cintai itu membalas cintanya. Ia pasti akan berusaha mneghadirkan apa yang disukai oleh yang dia cintai. Setelah dia tahu tentu saja dia akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya sampai yang dia cintai itu membalas cintanya. Bukan itu saja, dia juga akan selalu berusaha agar cinta yang telah dia peroleh dengan susah payah itu tetap langgeng dan terus meningkat. Jika dia cinta betul kepada seseorang, saya yakin dia selalu berusaha mementingkan seseorang itu tanpa memperhatikan kepentingan dirinya sendiri.

Mencintai Nabi SAW adalah kewajiban. Sebaliknya, tidak mencintai beliau apalagi sampai membenci beliau adalah sebuah kemaksiatan. Apalagi Allah SWT telah menyandingkan kecintaan kepada Nabi SAW dengan kecintaan kepada-Nya. Allah bahkan telah mencela orang yang mencintai sesuatu melebihi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya:
"Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri (atau suami-suami) dan kaum keluarga kelian, juga harta yang kalian usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab)-Nya. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang fasik (derhaka).” (QS at-Taubah : 24)."

Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari).


Fadilah (keutamaan) mencintai Rasulullah SAW

Banyak sekali keutamaan yang didapatkan kalau seseorang mencintai Rasulullah SAW, di antaranya:
1.  Cinta kepada Nabi SAW adalah bagian dari kesempurnaan iman dan cara untuk mendapatkan kecintaan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits : “Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” 
       (HR. Al-Bukhari)

2.       Akan bersama Rasulullah SAW di Akhirat, sebagaimana hadits yang diwayatkan oleh Anas bin Malik RA, “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?” Nabi pun SAW menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya SAW” Maka Rasulullah SAW pun bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi SAW, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’” Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari)

3.   Akan merasakan manisnya iman, sebagaimana Hadits dari Anas bin Malik ra., dari Nabi saw., beliau bersabda: "Ada tiga hal, barang siapa melaksanakan ketiga-tiganya maka ia akan merasakan kelezatan iman: Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada yang lain, orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah dan orang yang benci untuk kembali kekafiran sebagaimana benci untuk masuk ke dalam neraka."(HR. Bukhari).

Arti manisnya iman sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ulama adalah merasakan lezatnya segala ketaatan dan siap menunaikan beban agama serta mengutamakan itu daripada seluruh materi dunia.

Cara mencintai Rasulullah SAW
Banyak orang yang mengaku cinta Rasulullah SAW tetapi mereka tidak tahu hakekatnya, bentuk serta konsekuensi dari cinta tersebut. Cinta Rasulullah adalah bagian dari cinta Allah, karena ia adalah cinta karena Allah dan di jalan Allah, hal itu karena kecintaan kepada Allah menuntut konsekwensi mencintai semua yang Allah cintai, sedangkan Allah mencintai nabi dan kekasihNya Muhammad SAW, sehingga kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah cabang  dari kecintaan  terhadap Allah. Semua itu telah dicontohkan oleh generasi terbaik sehingga sepatutnyalah manusia yang ingin mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirat mencontoh mereka.

Diantara cara mencintai Rasulullah SAW sesuai Syari'at Islam serta yang telah dicontohkan oleh para salaf ash-sholih adalah:

1.   Mentauhidkan Allah
Hikmah utama diutusnya rasul termasuk Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyeru manusia kembali kepada tauhid yang murni dan menentang syirik. Sebagaimana Firman Allah SWT: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus di kalangan tiap-tiap umat seorang rasul (agar menyeru mereka). Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhi Taghut.” (QS al-Nahl : 36)

2. Mengikuti ajaran Rasulullah SAW dan menjauhi larangannya, karena orang yang mencintai seseorang, maka akan mentaatinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang akan selalu taat kepada orang yang dicintainya, dia berusaha melakukan apa saja yang diinginkan oleh sekasihnya dan menghindari segala apa saja yang dibenci olehnya. Ia merasakan kenikmatan dan kelezatan yang tidak terhingga. Begitu juga orang yang mencintai Rasulullah SAW yang mulia, selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti jejak beliau, bersegera mewujudkan perintah dan bersegera menjahui larangan beliau. Betapa banyak kita dapatkan sikap-sikap indah yang tercermin dari perilaku sahabat yang mulia dan jujur dalam mencintai Rasulullah SAW. Orang-orang pecinta Rasulullah SAW bukan hanya sanggup meninggalkan suatu yang disenangi saja bahkan mereka sanggup meninggalkan kebiasaannya bertahun-tahun bahkan kebiasan yang mereka warisi secara turun-temurun, namun mereka tidak menjadikan kebiasan itu sebagai hujjah untuk menentang perintah Rasulullah SAW seperti sikap kebanyakan kaum muslimin zaman sekarang ini. Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan".
(QS. Al Anfaal (8): 24).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman: 
"Apa yang Rasul perintahkan jepada kalian, terimalah; apa yang Beliau larang atas kalian, tinggalkanlah". (QS al-Hasyr : 7).

3.  Mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi SAW, sebagaimana firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." [QS Al-Ahzaab: 56].

Di dalam hadits yang diriwayatkan olehi Abu Hurairah, ia berkata: "Rasulullah SAW. pernah bersabda: 'Celakalah orang yang mendengar namaku disebut ia tidak mau bershalawat kepadaku, celakalah orang yang pada saat bulan Ramadhan datang, lalu berlalu begitu saja sebelum memperoleh ampunan, dan celakalah orang yang mendapatkan kedua orang tuanya telah tua, tetapi tidak menjadikan ia masuk surga." (HR. Tirmidz)

Bershalawat kepadanya tidaklah lepas dari berbagai faedah dan manfaat karena bershalawat kepada Nabi merupakan faktor diperolehnya berbagai kebajikan, dikabulkannya berbagai do’a, mendapatkan syafa’at, shalawat Allah atas hambanya, keabadian cinta Nabi dan tambahannya, dan selamat dari kebakhilan.

4.   Membenci orang yang Allah dan Rasul-Nya benci, memusuhi orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, menjauhi orang yang menyalahi sunnahnya dan Syariah Islam, serta membenci semua perkara yang menyalahi Syariat. Allah swt berfirman:
"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang (perintah) Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu ialah bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka (yang setia) itu, Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka..." (QS Al-Mujaadilah : 22).

5.   Mencintai orang-orang yang dicintai Nabi SAW
Antara tanda cinta kepada Nabi SAW adalah mencintai mereka yang dicintai baginda seperti isteri-isterinya, ahli keluarga (ahlu al-bait) dan sahabatnya serta seluruh umat Islam yang berpegang teguh dengan ajaran baginda.

6.   Membenarkan berita-berita yang beliau sampaikan
Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi SAW dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Allah Ta’ala berfirman
Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”     (QS. An-Najm: 3-4)

7.   Beribadah kepada Allah dengan tata-cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, tanpa ditambah-tambah ataupun dikurangi. Allah SWT berfirman,
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak.” (HR. Muslim)

8. Mencintai beliau SAW di atas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan seluruh manusia, dalam rangka mengamalkan firman Allah:
   
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri” (QS. Al Ahdzab: 6)

Sehingga bersiap mengorbankan jiwa dan harta untuk kecintaan kepadanya, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya:
Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At Taubah: 120)
9.   Membela Rasulullah SAW tatkala Beliau masih hidup, dan membela ajarannya setelah beliau wafat. Dengan cara menghafal, memahami dan mengamalkan hadits-hadits Nabi SAW. Juga menghidupkan sunnahnya dan menyebarkannya di masyarakat.

Dari 'Umar bin 'Abdul 'Aziz beliau pernah menulis surat kepada Abu Bakr bin Hazm: "Perhatikanlah mana yang merupakan Hadits Rasulullah hendaklah kamu tulis karena aku khawatir musnahnya ilmu agama ini dan lenyapnya para ulama. Janganlah engkau terima riwayat selain Hadits Nabi saw. dan hendaklah kalian sebarkan ilmu Hadits ini dan hendaklah kalian duduk untuk mempelajarinya sampai orang yang tidak tahu diajari sebab ilmu ini tidak akan musnah sampai menjadi barang yang asing." (HR. Bukhari)

Demikianlah sebahagian tanda dan bukti penting kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, semoga Allah memudahkan kita untuk memiliki dan merealisasikannya dalam kehidupan kita.

Ya Allah Ya Rabbi, kurniakanlah kami kalbu pecinta, cinta akan Rasul-Mu terkasih dengan sebenar-benarnya cinta sejati, yang bukan hanya pengakuan namun berupa pembuktian, yang menjadikan pertemuan dengannya sebagai sebuah kerinduan…

Referensi:
1.  Huquq An-Nabi ‘Ala Umatihi Fi Dha’il Kitab Was Sunnah. Dr. Muhammad Khalifah Al-Tamimi
2.  Mahabbatu An-Nabi Wa Ta’zimuhu. Fahd bin Abdullah Al-Habisyi.

Sumber : Abdurrahman Wahid, Lc
               http://www.pks-arabsaudi.org/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar